MEMBAGI ILMU YANG SANGAT AKU SUKA

Dunia bagi imajinasi ku yang tak pernah henti...

Sabtu, Juni 18, 2011

LEARNING DISORDER

Definisi Beserta Teori Pendekatan

DEFINISI

Gangguan belajar meliputi kemampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademi.

Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi dengan normal atau bahkan fungsi intelektual tinggi. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.

Sebagai konsekuensinya dari adanya berbagai kritik terhadap definisi kesulitan belajar menurut :

  • Ayers & Gray dalam Semiawan, (2006) adalah anak yang memmiliki ketidak mampuan belajar yang signifikan dibandingkan dengan mayoritas anak sebaya lain pada umumnya, sehingga menghalanginya untuk memanfaatkan fasilitas belajar yang biasanya tersedia disekolah.
  • Usman Dianti (2007) adalah anak yang mengalami hambatan belajar, mereka sulit meraih prestasi dasar disekolah padahal telah mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh bahkan ditambah belajar tambahan di rumah, tapi hasilnya tetap kurang memuaskan, sehingga siswa jadi terkesan lambat untuk melakukan tugas yang berhubungan dengan kegiatan belajar.

Pendekatan perkembangan anak saat ini melalui pendekatan Psikologi anak yang di kembangkan oleh ANNA FREUD. Masalah yang di temui ketika menganalisis anak-anak adalah kemapuan simbolik mereka yang belum lengkap seperti kemampuan orang dewasa. Anak-anak mungkin akan kesuliatan menggungkapkan masalah-masalah perasaan mereka secara verbal, sementara anak yang lebih tua dan mendekati dewasa, sudah mampu meredam perasaan mereka dengan berbagai symbol yang rumit. Di samping itu, persoalan pada anak adalah mereka belum memiliki cukup waktu untuk membentuk pertahanaan. Oleh karena itu, masalah kejiwaan mereka masih dapat di ketahui di permukaan dan cendrung di ekspresikan secara langsung, kurang simbolis, dan dapat di lihat berdasarkan sisi prilaku dan emosional. Karena persoalan anak sering bersifar langsung, Anna freud mencoba mengonseptualisasikan persoalan tersebut berdasarkan garis pertumbuhan kejiwaan mereka. Seorang anak yang selalu meniru teman sebayanya dalam hal prilaku makan, kebersihan, gaya bermain, hubungan dengan anak lain, dsb, dapat dikatakan sehat secara kejiwaan. Sementara kalau dia tetap menahan diri dan pasif, maka terapis dan memperkirakan ada masalah dalam kejiwaannya dan masalah ini harus dikomunikasikan dengan cara deskriptif.

B. Gejala-gejala dari gangguan belajar

1. Ketidakberfungsiannya minimal otak (minimal brain dysfunction)

Ketidakberfungsian minimal otak digunakan untuk merujuk suatu kondisi gangguan syaraf minimal pad anak. Ketidakberfungsian ini bisa termanifestasi dalam berbagai kombinasi kesulitan seperti : persepsi, konseptualisasi, bahasa, memori, pengendalian perhatian, impulse (dorongan), atau fungsi motorik. Anak-anak yang mengalami ketidakberfungsian otak minimal mungkin menampakkan berbagai symptom, beberapa symptom spesifik dari ketidakberfungsiannya otak minimal adalah :

a. Kelemahan dalam persepsi dan pembentukan sikap

b. Gangguan bicara dan komunikasi

c. Gangguan fungsi motorik

d. Kemunduran prestasi dan penyesuaian akademik

e. Karakteristik emosional

f. Gangguan proses berfikir

2.Aphasia

Aphasia merujuk pada suatu kondisi dimana anak gagal menguasai ucapan-ucapan bahasa yang bermakna pada usia sekitar 3;0 tahunan. Ketidakcakapan bicara ini tidak dapat di jelaskan karena faktor ketulian, keterbelakangan mental, gangguan organ bicara, atau faktor lingkungan. Aphasia tampak dalam berbagai symptom yg cukup kompleks. yaitu :

a. Receptiva aphasia

b. Expressive aphasia

c. Inner aphasia

3. Dyslexia

Disleksia atau ketidakcakapan membaca, adalah jenis gannguan belajar. Semua istilah disleksia ini digunakan di dalam dunia medis, tetapi saat ini di gunakan pada dunia pendidikan dalam mengidentifikasikan anak-anak berkecerdasan normal yang mengalami kesulitan berkompetisi dengan teman-temannya. Symptom umum yang sering di tampilkan anak disleksia adalah :

a. Kelemahan Orientasi kanan-kiri

b. kelemahan keterampilan jari

c. kelemahan memori

4. Kelemahan Perseptual atau Perseptual motorik

Kelemahan perceptual dan perceptual motorik sebenarnya merujuk kepada masalah yang sama. Sebenarnya persepsi dapat di identifikasikan tanpa mengaitkan dengan aspek motorik. Persepsi itu sendiri berfungsi membedakan stimulus sensori, yang pada gilirannya diorganisasikan ke dalam pola-pola yang bermakna. Seorang anak membedakan dan menafsirkan objek sebagi suatu kesatuan. Akan tetapi jika kelemahan perceptual motorik itu terjadi, integrasi antara persepsi dan gerak motorik terganggu. Kondisi ini menjadikan anak tidak dapat melakukan pengamatan secara tepat dan tidak mampu menerjemahkan pengamatan itu ke dalam alur gerak motorik, dan bahkan anak tidak dapat melihat dan mendengar secara normal. Biasanya anak yang mengalami gangguan perceptual motorik ini mengalami kesulitan dan memahami dan menyatakan ide.

C. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Kesulitan Belajar

Kephart (1967) mengelompokkan penyebab kesulitan belajar ini kedalam 3 kategori utama yaitu :

a. Faktor Kerusakan Otak

Kerusakan otak berarti terjadinya kerusakan syaraf seperti dalam kasus-kasus encephalitis, meningitis, dan toksin. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan gangguan fungsi otak yang diperlukan untuk proses belajar pada anak dan remaja. Demikian pula anak-anak yang mengalami disfungsi minimal otak (minimal brain dysfunction) pada saat lahir akan menjadi masalah besar pada saat anak mengalami proses belajar.

b. Faktor Gangguan Emosional

Faktor gangguan emosional ini menimbulkan kesulitan belajar terjadi karena adanya trauma emosional yang berkepanjangan yang mengganggu hubungan fungsional sistem urat syaraf. Dalam kondisi seperti ini prilaku-prilaku yang terjadi seringkali seperti prilaku pada kasus kerusakan otak. Namun demikian tidak semua trauma emosional menimbulkan gangguan belajar.

c. Faktor Pengalaman

Faktor pengalaman yang dapat menimbulkan kesulitab belajar mencakup faktor-faktor seperti kesenjangan perkembangan atau kemiskinan pengalaman lingkungan. Kondisi ini biasanya dialami oleh-oleh anak-anak yang terbatas memproleh rangsangan lingkungan yang layak, atau tidak pernah memperoleh kesempatan menangani peralatan dan mainan tertentu, dimana kesempatan semacam itu dapat mempermudah anak dalam mengembangkan keterampilan manipulatif dalam penggunaan alat tulis seperti pensil dan bolpoint. Kemiskinan pengalaman lain seperti kurangnya rangsangan auditif menyebabkan anak kurang memiliki perbendaharaan bahasa yang diperlukan untuk berfikir logis dan bernalar. Biasanya kemiskinan pengalaman ini berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi orang tua sehingga seringkali berkaitan erat dengan masalah kekurangan gizi yang pada akhirnya dapat mengganggu optimalisasi perkembangan dan keberfungsian otak.

D. Klasifikasi / Macam-macam gangguan belajar

  1. Gangguan membaca ( disleksia )

Seseorang yang mengalami gangguan dalam membaca biasanya akan kitra sebut bahwa seseorang itu mengalami “dyslexia”, bacaan lisan yang ditandai oleh adanya pengurangan kata-kata atau ketidaktepatan lainnya dalam membaca, ini akan terjadi pada tahapan membca dalam hati maupun membca nyaring yang nantinya juga akan ditandai dengan lambannya ia membaca dan kesalahan dalam pemahaman.

  1. Gangguan berhitung ( diskalkulia )

Diskalkulia adalah gangguan belajar yang mengakibatkan gangguan dalam berhitung. Kelainan berhitung ini meliputi kemampuan berhitung sangat rendah, tidak mepunyai pengertian bilangan, permasalahan dalam bahasa berhitung, tidak bisa mengerjakan symbol-simbol hitungan, dan gangguan dan gangguan berhitung lainnya. Bisa karena kelainan genetik atau karena gangguan mekanisme otak. Gannguan berhitung merupakan suatu gangguan perkembangan kemampuan aritmatika atau keterampilan matematika yang jelas mempengaruhi pencapaian prestasi akademiknya atau mempengaruhi kehidupan sehari –hari nak.

  1. Gangguan menulis ( dysgraphia)

Seseorang yang mengalami kesukaran dalam bentuk ini kurang mampu untuk menulis, mengeja, dan mengkategorikan ide-ide serta komposisi. Istilah dysgraphia seringkali digunakan dalam menyebut kesukaran ini, walaupun sebenarnya dysgraphia secara khusus mengarah pada kesukaran dalam tulis tangan.

  1. Gangguan Penyerta

· Gangguan membaca

Ditandai oleh gangguan kemampuan untuk mengenali kata, membaca yang lambat dan tidak tepat, dan pemahaman yang buruk tanpa adanya kecerdasan yang rendah atau defisit sensorik.

· Gangguan ekspresi tulisan

Ditandai oleh keterampilan menulis yang secara bermakna dibawah tingkat yang diharapkan menurut usia. Kapasitas intelektual, dan pendidikan seseorang seperti yang diukur dengan tes yang baku.

· Gangguan perkembangan pervasif

Adalah kelompok kondisi psikiatrik dimana keterampilan sosial diharapkan, perkembangan bahasa, dan kejadian prilaku tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa anak-anak awal.

E. Treatment / Terapi

  • Melakukan assessment
  • Melakukan penilaian prilaku anak untuk mendeteksi : pemahaman auditori, bahasa ujaran, orientasi, perilaku dan gerak anak.
  • mengumpulkan informasi medis anak
  • mengetahui potensi kecerdasan anak
  • mengidentifikasi jenis kesulitan belajar yang dialami anak berdasarkan cirri-ciri gangguan yang terdapat dalam DSM IV
  • Pengobatan yang paling berguna untuk gangguan belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak

G. Studi Kasus

Nani, seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang menunjukkan ketidakmampuannya dalam berkonsentrasi terhadap pekerjaan sekolah kecuali dalam beberapa menit saja. Secara konstan dia selalu keluar dari tempat duduknya dan mengganggu temannya. Ketika dia melakukan konsentrasi, dia selalu tertahan (fiksasi) terhadap hal-hal detail yang tak berarti, misalnya dia hanya memperhatikan bagian kecil dari gambar ketimbang memperhatikab gambar tersebut secara keseluruhan. Dia menunjukkan kekacauan didalam permainan di lapangan. dia tidak mampu melempar atau menangkap bola dengan tepat dan terkoordinasi sebagaimana gadis seusia lainnya. Dia bersifat impulsive untuk menyakiti anak lain tanpa alasan yang jelas. Nani adalah seorang anak yang berkesulitan belajar, dia tidak mampu melakukan tugas-tugas akademik dengan baik kendatipun fakta menunjukkan bahwa memperoleh skor inteligensi dalam rentang rata-rata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar