MEMBAGI ILMU YANG SANGAT AKU SUKA

Dunia bagi imajinasi ku yang tak pernah henti...

Kamis, Maret 18, 2010

Peri Kecil

Sudah berkali-kali aku menejlaskan ini kepada papah, untuk membairkan seila memilih jurusan yang diinginkannya, namun papah tetap pada pendiriannya, bahwa seila harus masuk fakultas kedokteran. Seila memang tidak bisa menolak apa pun yang papah minta, dan itu membaut papah merasa tidak ada masalah dengan keingan beliau itu. sejak kecil seila selalu diarahkan papah dalam semua hal, sekolah, tempat bim-bel, bahkan sampai hal-hal kecil seperti tempat liburan dan les musik dan kesenian. Dia tidak pernah ditanya mau apa dan bagaimana, yang ia tau hanya menjalankan apa kata papah. Tetapi tidak dengan aku, papah memang tidak pernah memaksa ku untuk apa pun, selalu membiarkan ku memilih apa yang ku mau selama itu masih wajar dan masuk akal, termasuk keinginan ku utuk kuliah di australia dengan jurusan seni sabagai pilahanku. Sedangkan mamah, beliau juga tidak dapat banyak membantu seila dalam hal ini, pertama karena beliau pun ingin salah satu anak nya, itu artinya hanya antara aku dan seila karena kami hanya dua bersaudara, menjadi dokter dan karena beliau pun tak pernah bisa membantah apa yang papah putuskan. Saat ku tanyakan pada seila jurusan apa yang ia inginkan, ia pun bingung. Mungkin karena selama ini ia tidak pernah punya keinginan, ia hanya menjadi boneka pelaksana keinginan papah. Namun aku mendesaknya untuk meminta pada papah masuk jurusan yang ia inginkan, meamksanya untuk memutuskan jurusan sesuai keinginannya. Karena nanti, saat liburanku berakhir dan harus kembali ke ausie, aku yakin tidak ada lagi yang bisa “menolongnya”. Dan akhirnya seila bisa memutuskan jurusan yang ia inginkan, ia ingin masuk jurusan sastra inggris, karena memang kemampuan bahasa inggrisnya sangat bagus dan sekarang tinggal bagaimana kami, aku dan seila meyakinkan papah tentang pilihan seila ini, semoga papah bisa mengerti.

Mamah memang setuju dengan pilihan seila, karena beliau tidak ingin memaksanya lag. Hanya saja papah terlalu keras untuk mengerti. Seila sudah muali berani menyampaikan keinginannya itu, menjelaskan kemampuan bahas inggrisnya yang memang luarbiasa bagusnya, menjelaskan bagaimana ia begitu tertarik pada sastra dan baagaimana ia bisa membayangkan bila nanti berkulaih di jurusan yang ia sukai. Namun papah tetap kekeh dengan keingina beliau, bahwa seila harus masuk fakultas kedokteran lalu menjadi seorang dokter. Papah pun sudah memilihkan universitas untuknya, UI jakarta. Aku pun mencoba untuk membujuk papah, membantu seila, juga mamah yang biasaya hanya diam kini bersuara, namun hasilnya nihil. Papah tetap pada pendiriannya, dan seila juga kami tidak dapat menolak lagi.

Minggu depan seila sudah harus ke jakarta, dan lusa aku harus kembali ke ausie. Mamah yang akan menemani hari-hari pertama seila di jakarta, padahla aku pun ingin menemani adik ku satu-satu nya itu namun kuliahku tidak mungkin aku tinggalkan. Dua malam terakhir ku habiskan bersama seila, aku tidur dikamarnya, dan kami berbagi cerita. Aku menceritakan bagaimana dunia kuliah itu secara luas padanya, dan mengingatkan nya tentang hal-hal yang tidak perlu didekatinya karena ia akan hidup di kota yang begitu kejam, maka aku ingin ia berhati-hati dan wasdapa.

Kini satu semester sudah berlalu bagi seila, terakhir kami chating dua hari lalu, katanya baru saja selesai ujian akhir semester. Aku memintanya untuk minta izin sama papah mamah agar bisa liburan disini, karena liburan ini aku tidak kembali ke indonesia, dan ternyata papah mengizinkan. Minggu depan seila akan sampai disini, langsung dari jakarta, senang rasanya bisa bertemu adik ku itu.

Namun saat pertama menjemputnya di bandara, aku terkaget-kaget melihat penampilan barunya, ternyata dalam 6 bulan jakarta merubahnya dalam banyak hal, namun semoga ia tetap adik ku yang dulu. Tapi sepertinya aku keliru, seila benar-benar banyak berubah. Gaya bicaranya padaku, gaya berpakaiannya juga tingkah lakunya. Dia bukan lagi seila yang sopan dan lembut dalam bertutur, semua pakaian yang di kenakannya pun lebih terbuka dan parahnya lagi sekarang ia merokok. Awalnya aku tak banayk bertanya, berharap ia yang akan bercerita tapi ia pun tak kunjung berbagi kisahnya.

Dan saat aku menanyakan perubahannya, jawabannya adalah seperti itulah kehidupan jakarta, kota yang apa saja yang kita mau tersedia dan seila terbawa oleh arus kota jakarta. Mungkin ini pun bukan salah seila, walau sebenarnya juga tidak ingin menyalahkan papah, tapi inilah yang kulihat. Seila tidak pernah tau bagaimana ia harus menjadi, apa yang ia suka dan inginkan. Yang dia tau hanya menjalankan apa yang papah inginkan sehingga mungkin saat ia harus memutuskan banyak hal dengan sendiri, ia begitu mudah untuk terbawa dalam banayak hal, termasuk gaya hidup dan pergaulan.

Aku mencoba menjelaskan bahwa rokok tidak baik untuk kesehatannya, juga karena ia seorang calon dokter, namun ia selalu hanya tersenyum denga kata-kata ku itu. hanya dua minggu seila disini, karena ia harus kembali ke rumah dulu sebelum ke jakarta lagi untuk kuliah. Dua minggu yang begitu singkat bagi ku, setelah 6 bulan tak bertemu dengannya, dua minggu sungguh begitu singkat. Tetapi rencana seila harus berubah, saat di rumah ia jatuh sakit dan harus rawat inap dirumah sakit, saat mamah memberi tau ku lewat telpon, saat itu belum diketahui apa penyakit seila, aku selalu berdoa semoga hanya sakit ringan. Tetapi vonis dokter menyatakan dia terkena kanker hati, hancur rasanya hati ku saat menegtahui tentang itu. entah sejak kapan ia mengindap penyakit itu, selama ini ia tidak pernah bercerita dan mengeluhkan apapun, mamah dan papah pun baru tau tentang ini dan mereka sama terpukulnya dengan ku. Seila menjadi sangat kurus dan lemah, sesaat setelah mendengar vonis dokter dari mamah, aku langsung terbang ke banjarmasin, kalau memang aku harus menemaninya dalam waktu lama, aku akan ambil terminal untuk kuliahku. Tapi ternyata tidak perlu, karena seila sudah tidak apa-apa, dia sudah tidak perlu menahan sakit lagi, karena ternyata tuhan lebih menyayanginya, operasi yang dijalaninya gagal dan dokter tidak dapat membantunya untuk bertahan. Papah begitu terpukul, ia teramaat merasa bersalah, mamah menjadi pemurung dan aku yang juga begitu terpukul tak tau harus bagaimana, seila adik ku satu-satunya, teman ku sejak kecil dan aku mengenalnya begitu dekat, seperti menegnal diriku sendiri. Dua minggu di ausie itu, ternyata dia meninggalkan sebuah note.

Sasha..

Aku sayang kamu, sebagai kaka, teman dan sahabat ku..

Aku tak tau mengapa aku menjadi seperti ini, yang aku tau, aku ingin menikmati hidup ku sha..

3 bulan terakhir aku sering merasakan sakit yang begitu hebat di dadaku..

Entah apa yang terjadi, aku takut sha... takut..

Lalu aku mencoba banyak hal baru yang selama ini aku tak tau..

Berharap bisa menemukan hal yang selama ini ku cari, keinginan dan jati diri..

Aku tau papah begitu menyayangi ku, dengan cara seperti selama ini..

Hanay saja aku ingin merasaakn melakukan sesuatu karena aku mau, karena semua yang papah mau selalu mampu ku penuhi..

Ini bukan bentuk berontak ku sha, bukan..

Aku bahagia dengan hidup ku selama ini, ada kamu, papah dan mamah..

Hanya saja aku ingin membiarkan diri ku menjadi yang ku mau, menemukan yang kucari..

Aku janji sha, bila nati aku tau apa yang ku mau dan menemukan yang kucari, aku akan menjadi adik mu yang dulu lagi, aku janji sha.. janji...

Semoga ini jalan terbaik untuk seila, semoga kau tetap bahagia. Kau pun tau betapa aku menyayangi mu, andai aku bisa untuk selalu menjagamu seila...

Kamu sudah menjaga adikmu dengan sangat baik sayang, biarkan ia istirahat ya, kita pulang.. ajak papah, dan mamah membimbing ku kembali ke mobil dan meninggalkan seila sendiri di tempat istirahatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar